JAKARTA-WARTACIANJUR.id- Master Chef hingga koki terbaik dunia mengajari cara memanggang dan menggoreng steak atau daging merah dengan sempurna.
Namun, siapa sangka jika cara tersebut belum tentu tepat untuk kesehatan jantung, terutama jika dikonsumsi penderita penyakit jantung.
Menurut studi baru dari University of South Australia menunjukkan bahwa karamelisasi panas yang tinggi bisa berdampak buruk bagi kesehatan.
Studi yang dilakukanbersama peneliti di Gyeongsang National University tersebut menemukan bahwa mengonsumsi daging merah dan daging olahan dapat meningkatkan senyawa protein.
Ditemukan bahwa pola makan tinggi daging merah secara signifikan dapat meningkatkan kadar dari produk akhir glikasi lanjutan (AGE) dalam darah yang menunjukkan hal itu dapat berkontribusi pada perkembangan penyakit.
Produk AGE adalah protein yang menjadi terglikasi sebagai akibat paparan gula. Faktor ini yang dapat mengakibatkan penuaan dan dalam perkembangan atau memburuknya banyak penyakit degeneratif.
Senyawa protein tersebut yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan komplikasi pada diabetes.
Seperti diketahui, penyakit kardiovaskular (CVD) adalah penyebab kematian nomor satu secara global yang dapat dicegah. Di Australia penyakit ini mewakili satu dari lima, semua kematian.
Rekan peneliti dari UniSA, Profesor Peter Clifton mengatakan meski masih ada pertanyaan tentang bagaimana AGE makanan dikaitkan dengan penyakit kronis, studi ini menunjukkan bahwa makan daging merah akan mengubah tingkat AGE.
Prof Clifton mengatakan pesannya cukup jelas, yakni apabila ingin mengurangi risiko penyakit jantung, maka kita perlu mengurangi konsumsi daging merah atau lebih mempertimbangkan cara memasaknya.
“Menggoreng, memanggang, dan membakar mungkin merupakan metode memasak yang disukai oleh koki top, tetapi ini mungkin bukan pilihan terbaik bagi orang yang ingin mengurangi risiko penyakit,” kata Prof Clifton.
Peneliti UniSA Dr Permal Deo mengatakan penelitian ini memberikan wawasan pola makan yang penting bagi orang yang berisiko terkena penyakit degeneratif tersebut.
“Ketika daging merah dibakar pada suhu tinggi, seperti memanggang, atau menggoreng, itu menciptakan senyawa yang disebut produk akhir glikasi lanjutan atau AGEs yang bila dikonsumsi, dapat menumpuk di tubuh Anda dan mengganggu fungsi sel normal,” Dr. Kata Deo.
Konsumsi makanan AGE tinggi, imbuh dia, dapat meningkatkan total asupan AGE harian sebesar 25 persen, dengan tingkat yang lebih tinggi dapat berkontribusi pada pengerasan pembuluh darah dan miokard, peradangan dan stres oksidatif yang kesemuanya adalah tanda penyakit degeneratif.
Diterbitkan di Nutrients, studi tersebut menguji dampak dari dua diet. Pertama tinggi daging merah dan biji-bijian olahan dan yang lainnya tinggi dalam susu biji-bijian, kacang-kacangan dan polong-polongan.
Kemudian pada daging putih yang menggunakan metode memasak dengan dikukus atau di rebus.
Jadi, kata Prof Clifton, apabila Anda ingin mengurangi risiko AGE berlebih yang berdampak buruk bagi kesehatan jantung, maka makanan yang dimasak perlahan bisa menjadi pilihan yang lebih baik untuk kesehatan jangka panjang.(kompas.com)